Tuesday, 6 January 2026

Aku Bukan Pembeli Jiwa

Kata orang,  
Auditor itu wajahnya sukar senyum,  
Langkahnya dingin, ucapnya menggugah,  
Berjalan bukan menjemput pujian,  
Tapi mengejutkan lena yang panjang.  

Kata orang,  
Auditor hadir hanya mencari cela,  
Memetik salah dari dahan resah,  
Mencari retak pada kaca yang hampir pecah,  
Memahat luka yang sudah lara.

Kata orang,  
Jadilah Auditor yang mendamaikan,  
Bukan yang membongkar,  
Ikutlah arus, jangan jadi gelombang,  
Biar dingin, jangan membakar.  

Namun kata aku,  
Aku bukan bayang yang dilunturkan cahaya,  
Aku bukan pena yang diatur,  
aku bukan gema yang mengulang suara.

Aku tahu,  
Kata-kata itu tajam,  
Penemuan itu bisa,  
Namun tiada niatku menoreh tanpa sebab,  
Bukan hasratku meruntuh yang telah kukuh.

Aku bukan pencari musuh,  
Aku bukan peraih puja,  
Aku bukan pemungut suka,  
Aku bukan pembeli jiwa.  

Aku cuma pengembara sunyi,  
Dalam rimba tadbir urus,  
Menyelusur jejak yang makin pudar,
Mencari cahaya di lorong yang samar.

Aku tahu,  
Tidak semua suka kehadiranku,  
Tidak semua terbuka untuk ditelusuri,  
Tidak semua rela disuluh,  
Namun amanahku bukan untuk disimpan,
Ia untuk ditegakkan, meski bersendirian.

Biarlah aku berjalan begini,  
Biarlah bicaraku disambut sepi,  
Asalkan langkah ini masih benar,  
Suara ini masih gegar.  

Kerana pada akhirnya,  
Tiada yang kekal selain pertanggungjawaban,  
Tiada nilai yang setanding kebenaran.  

Aku bukan pembeli jiwa,  
Aku cuma pelontar suara,  
Yang datang bukan untuk menjatuh,  
Tapi untuk memperkukuh.

AKU BUKAN PEMBELI JIWA